
Ada harapan sederhana dari ribuan anak muda Indonesia yang baru pertama kali menjejakkan kaki di dunia kerja. Harapan ingin belajar, berkembang, dan menemukan arah hidup yang lebih baik. Sayangnya, ada kenyataan yang jarang dibicarakan dalam ruang rapat, ruang magang, maupun percakapan makan siang. Misalnya, komentar yang merendahkan, tatapan yang membuat tidak nyaman, hingga tekanan halus dari mereka yang memegang kuasa.
Tidak heran banyak yang memilih diam karena dunia kerja sering tidak memberi ruang aman untuk berkata tidak. Padahal, sebetulnya mereka tahu mana yang benar dan mana yang semestinya tidak dilakukan.
“Yang mereka alami itu nyata” ujar Imelda.
Pada 2017, di tengah gelombang kampanye global #MeToo yang menggema hingga lini masa Indonesia, Imelda dan sahabatnya, Alvin, memulai Never Okay Project, sebuah inisiatif sosial berbasis teknologi pertama di Indonesia yang bertujuan mencegah terjadinya pelecehan seksual di tempat kerja secara berulang melalui kumpulan cerita dan pengalaman para penyintas.
Penyintas juga dapat bercerita dan berbagi pengalaman di website secara anonim. Nantinya, mereka bisa mendapatkan pendampingan, pemulihan psikologis, hingga bantuan hukum.
Saat Dua Anak Muda Menolak Diam
Imelda dan Alvin memulai Never Okay Project saat berada di fase hidup yang paling rentan terkena pelecehan seksual di tempat kerja, yakni awal karier. Target tinggi, jam kerja panjang, dan budaya bercanda yang sering menabrak batas. Dari obrolan ke obrolan ringan, Imelda mendengar cerita teman-teman yang dilecehkan, kadang secara verbal, kadang fisik, bahkan pelecehan seksual ini sering kali dibungkus dengan candaan yang dianggap “wajar”.
Never Okay Project kemudian menyebarkan survei kecil ke 75 pekerja muda. Hasilnya mengejutkan karena hampir 20% responden mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di kantor oleh atasan, rekan sejawat, atau bahkan klien.
“Dari situ kami sadar, masalah ini dekat sekali dengan kita. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak yang memilih diam” ujar Imelda.
Membangun Ruang Aman Dimulai dari Platform Digital
Menurut data dari Better Work Indonesia (2015) menyebut 80% perempuan mengalami pelecehan seksual di tempat kerja dan hanya 1% yang berani melapor.
Imelda menyadari bahwa ruang aman yang tidak ada, menjadi salah satu penyebab mereka tidak berani melaporkan. Karena itu, Imelda dan Alvin membangun platform yang memungkinkan siapa pun bercerita tanpa beban, tanpa rasa malu, dan tanpa takut disalahkan.

Setiap kisah yang masuk diproses dengan hati-hati, bahkan untuk identitasnya pun disamarkan. Kemudian, Tim Never Okay Project akan menghubungi penyintas untuk menanyakan kebutuhan mereka, misalnya bantuan psikolog, bantuan hukum, atau sekadar memvalidasi ceritanya agar beban traumanya berkurang.
“Kadang yang mereka cari itu validasi, bahwa yang mereka alami tidak normal dan mereka tidak salah” Kata Imelda.
105 Cerita, Ratusan Pola yang Sama

Sejak berdiri, Never Okay Project menerima 105 cerita penyintas dari berbagai sektor pekerjaan. Untuk memperkuat temuan, Imelda melakukan Survei Publik 2018 bersama Scoop Asia News didukung oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Femina Group, Magdalene, Pamflet Generasi, Indonesia Feminis dan Campaign #ForChangeID melaksanakan survei Pelecehan Seksual di Tempat Kerja.
Total ada 1.240 responden yang tersebar di 34 provinsi seluruh Indonesia. Hasilnya cukup mencengangkan, karena ada 94% responden mengaku mengalami pelecehan seksual secara fisik di tempat kerja.
Survei lanjutan dilakukan pada 2020, hasilnya menunjukkan bahwa pelecehan seksual tetap terjadi saat WFH melalui ruang digital.
“Penyintas memilih diam bukan karena tidak terluka, tetapi karena tidak tahu harus bicara ke siapa.” kata Imelda.
Ketika Diam Menjadi Budaya
Hingga 2022 sebelum UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual disahkan, isu pelecehan seksual di tempat kerja berada di wilayah abu-abu. Banyak korban bingung harus mencari bantuan ke mana.
Data Never Okay Project menunjukkan sekitar 54,81% pelaku adalah atasan atau senior. Karena itu banyak penyintas takut kehilangan pekerjaan, reputasi, atau kesempatan karier. Bahkan, sebagian menganggap pelecehan seksual merupakan risiko bekerja. Karena itu, Never Okay Project berkomitmen untuk mengisi ruang aman yang tidak disediakan oleh institusi.
Kisah yang Tidak Pernah Luntur dari Ingatan
Dari ratusan cerita yang masuk ke platform Never Okay Project, ada satu cerita yang melekat dalam ingatan Imelda. Hal ini karena perjalanan penyintasnya menunjukkan betapa rumitnya mencari keadilan.
Cerita itu datang dari salah satu penyintas yang memiliki support system kuat, mulai dari keluarga yang mendampinginya, teman-teman, dan beberapa organisasi yang siap membantu. Karena itu, ia memutuskan melaporkan kejadian pelecehan seksual yang dialaminya. Tentu saja ia berharap proses hukum bisa memberikan rasa lega setelah sekian lama memendam cerita dan trauma.
Namun, kenyataan tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Pelaku yang ia laporkan ternyata memiliki power sehingga tidak lama setelah laporan dibuat, si penyintas justru dilaporkan balik atas tuduhan pencemaran nama baik. Situasinya berubah cepat dari status korban menjadi pihak yang harus membela diri.
Bagi Imelda, momen itu terasa menyakitkan. “Ia sudah mengumpulkan keberanian begitu besar, tetapi sistem yang kita punya belum benar-benar melindungi.” kenangnya.
Pada akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai hal termasuk tekanan mental, proses hukum yang panjang, hingga dampaknya pada kehidupan sehari-hari, penyintas memilih menarik laporannya. Hal ini karena beban yang hadir di luar dugaan.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa terkadang keberanian berbicara tidak selalu cukup. Bahkan, ketika seseorang memiliki dukungan penuh dari berbagai pihak, sistem yang timpang bisa membuat langkah menuju keadilan terasa sangat jauh.
Dan dari cerita-cerita yang masuk, Never Okay Project memilih untuk bertahan, bergerak, dan memastikan tidak ada lagi penyintas yang merasa sendirian.
Dari Ruang Kerja ke Dunia Magang
Dalam beberapa tahun terakhir, Never Okay Project menyasar mahasiswa dan peserta magang kelompok yang sering dianggap “belum pekerja penuh” sehingga perlindungannya paling lemah.
“Karena mereka memiliki batas yang mestinya dihormati” kata Imelda.
Never Okay Project membuat modul khusus, mengenali perbedaan antara candaan dan pelecehan, memahami konsep consent, hingga membagikan kontak bantuan jika terjadi pelecehan seksual. Bagi Imelda, pencegahan harus dimulai sejak dini.
Menolak Biasa, Menjaga Asa
Kini, delapan tahun sejak berdiri, Never Okay Project masih terus melangkah menerima cerita, mendengarkan, dan memvalidasi rasa sakit yang tidak terlihat. Selain itu, Never Okay Project juga masih terus menghubungkan penyintas dengan bantuan yang mereka butuhkan.
Sejauh ini sudah ada 920 penerima manfaat, 26 kemitraan aktif, dan 150 relawan terlatih berkat inisiasi Never Okay Project. Angka-angka tersebut menjadi bukti nyatanya dibalik perjuangan Never Okay Project. Karena di balik angka itu ada wajah, ada cerita, ada hidup yang berubah.
“Ada kalanya kami lelah. Namun, setiap kali ada satu penyintas berkata: ‘Terima kasih sudah mendengarkan’, rasanya itu sudah cukup menghapus lelah kami.”
Makna yang Tidak Pernah Berubah
Nama “Never Okay” menyimpan pesan sederhana. Bahwa pelecehan sekecil apa pun dan dalam bentuk apa pun tidak pernah bisa dianggap biasa.
Perjuangan Never Okay Project bukan hanya tentang menghentikan pelecehan. Namun, tentang memberikan masa depan yang aman bagi generasi muda Indonesia di mana mereka bisa bekerja, belajar, dan berkembang tanpa rasa takut.
Ketika Gerakan Kecil Mendapat Pengakuan Besar
Pada 2025 menjadi salah satu momen emas perjalanan Never Okay Project. Gerakan yang dimulai dari percakapan dua anak muda ini menerima SATU Indonesia Awards Astra 2025 untuk kategori Pendidikan.

Penghargaan itu bukan sekadar simbol. Hal ini merupakan legitimasi, pengakuan, dan bukti bahwa upaya menghapus pelecehan seksual bukan lagi suara pinggiran.
“Penghargaan ini bukan tentang kami, ini tentang ratusan orang yang pernah bercerita kepada kami dan tentang keberanian mereka.” ujar Imelda.
Sepak terjang Never Okay Project memang cukup luas karena bekerja sama dengan perusahaan besar untuk membuat standar pencegahan pelecehan hingga melatih komunitas dan organisasi muda agar mampu mengenali dan merespons pelecehan.

Gerakan ini membuktikan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari lembaga besar. Kadang dimulai dari anak muda yang bersedia bergerak ketika yang lain memilih diam.
Never Okay Project membuktikan bahwa sebuah perubahan bisa lahir dari mereka yang menolak menganggap pelecehan seksual di dunia kerja sebagai hal yang biasa. Mereka bergerak dan berdampak untuk semua pekerja yang membutuhkan ruang aman. Selama gerakan ini tetap dijaga, cerita-cerita itu tidak dibiarkan tenggelam, suara-suara sunyi tetap dicari, Never Okay Project akan terus menyalakan harapan. Bahwa dunia kerja Indonesia bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi tempat di mana setiap orang dihargai tubuhnya, suaranya, dan martabatnya.
Sumber:
- Wawancara dengan Imelda Riris Damayanti (Project Lead Never Okay Project)
- https://neverokayproject.org/
- https://www.instagram.com/neverokayproject/
- Youtube Tribunnews https://www.youtube.com/live/vEGwncx5ZpA
- Satu Indonesia Awards Astra








Ya ampun, mengerikan sekali.
Semoga makin banyak ruang aman bagi para pekerja
Ini nih yang dibutuhkan banyak orang. Tentu bisa menyelamatkan kelompok rentan